“…Delapan, sembilan, sepuluh! sudah?” Tak ada jawaban, Si pemilik kaki kecil mulai berlari ke sana, ke mari, mencari di mana temannya bersembunyi.
“Kamu dimana? Ihh.. aku capek tahu..!” teriak Si pemilik kaki kecil.
“Endop!! ahahah… aku menang, dan kamu kalah lagi!” teriak teman bermainnya dari balik puing-puing tiang tower.
“Ih, Azka… kamu curang, aku dijadikan penjaga terus! Pantaslah kamu selalu menang. Aku capek tahu mencarimu!” Si pemilik kaki kecil perlahan mulai tersedu.
Temannya hanya tertawa, “Hahaha…ya sudah, besok kita main lagi ya, aku janji aku yang akan menjadi penjaga dan akan mencarimu” sambil menunjukan kelingking pada gadis kecil yang masih menangis.
“Janji?”“iya”
…
“Ecy,
kamu sudah siap, sayang?” suara teduh ibunda memanggil dari lantai bawah. “Oh iya Bun, ini sudah selesai kok!” seorang gadis
manis berjilbab ungu bergegas turun menghampiri seruan ibunya.Di
bawah tangga kedua orang tua berwajah senja telah menunggu, menyambut anak semata
wayangnya dengan pelukan hangat.“Duh.. anak Ayah manis sekali. Jangan nakal ya, di sana. Jaga wudhu dan solatmu. Ini photo ayah dan bunda untuk kangen-kangenan kamu di sana” jenaka pria separuh baya memberi bekal hati supaya jangan meninggalkan Tuhan.Gelak tawa memecah sunyi yang sempat mengendap pagi itu, namun tak dapat dipungkiri melepas sang dara semata wayang pergi mengapai cita-cita di Negeri orang sangat mengurat kesedihan di hati mereka.
…
Hari
itu pagi yang cerah untuk memulai perkuliahan mahasiswa/i baru. Tampak seorang gadis
terburu-buru sambil mendekap setumpuk buku.Brukk!
Tabrakan tak dapat dihindari.
“I’m sorry” gadis itu tergagap, namun sebuah tangan besar khas lelaki mengulurkan bantuan. Mata mereka saling bertuburukan, karena melihat wajah gadis itu adalah wajah Indonesia, laki-laki tadi lantas memandangnya lekat-lekat “Iya tak apa-apa. Aku juga dari Indonesia, nama kamu siapa?”
“Aku Ecy…” Tanpa perduli lebih jauh, ia berlari kecil meninggalkan lelaki itu untuk mengejar kelasnya dengan perasaan tak menentu. Seolah-olah ia baru saja bertemu orang yang telah lama ia tunggu, namun ia lupa siapa lelaki barusan?
…
Assalatukhairunminannaum…
Panggilan subuh mengema di setiap sudut ruang dan menyadarkan seorang perempuan manis untuk menjalankan kewajibannya sebagai muslimah. Tetes air wudhu dan sujud demi sujud diakhiri salam terakhir sebagai penutup dua rakaat, ia memanjatkan doa
“Ya Rabb, yang maha pembolak-balikan hati. Apa gerangan yang terjadi pada hati ini? Mengapa akhir-akhir ini aku merasa dekat dengannya? Jaga ia ya Rabb, tetapkan ia pada Islam dan naungan-Mu. Amin.” kali ini ia merasa kenangan masa kecilnya terngiang kembali.
…
“Sah?” Tanya lelaki tua bersetelan jas nyaris lusuh.
“Sah !” jawab seluruh saksi pada akad pagi ini.
Seketika lamunan kenangan perempuan manis bersunting kuning Palembang itu buyar. Lalu ia beringsut menyalami calon ayah dari anak-anaknya dengan penuh ikhlas.
Lelaki itu mendekat, “Ingat janji kelingking kita? Hari ini kutepati janjiku menjaga dan mencarimu dengan pernikahan ini. Sayang kamu, cy.” Lalu dengan lembut dikecup kening istrinya mesra.Kenangan janji kelingking itu terbukti. Dengan senyum bahagia dan rona merah muda mengembang.
“Terima kasih kak Raja Azka Raditya, aku mencintaimu”.
Batam, 5 May 2014
Nurmanita Desy Sasriani

Komentar