Sampah merupakan hasil pembuangan atau sisa-sisa konsumtif yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan sampah tak ayal menjadi salah satu faktor pencemaran dan kerusakan lingkungan apabila tidak di kelola dengan baik. Mayoritas orang berfikir sampah hanya sebatas sampah dan tidak memiliki daya jual lagi, namun sebagian orang justru memperoleh manfaat dari keberadaan sampah yang justru selama ini sering di abaikan. Salah satu Dosen Universitas Riau Kepulauan Batam, kelahiran Tanjung Gading, 12 November 1984, Wilda Fasim Hasibuan atau biasa di sapa dengan panggilan Wilda, melihat peluang yang dahsyat yang sebenarnya dapat diperoleh dari pengelolaan sampah dengan cara mendaur ulang untuk menjadikan sebuah karya yang memiliki kreativitas dan nilai jual yang tinggi.
Pekan lalu Tablod Think, secara khusus mewawancarai Wilda Fasim Hasibuan mengenai ketertarikannya dalam menghasilkan karya dari sampah yang sering di abaikan masyarakat pada
umumnya. Berikut hasil wawancara Think dengan beliau ;
Sejak kapan Ibu tertarik pada minat mendaur ulang sampah?
Ketertarikan saya mendaur ulang sampah, dimulai pada tahun 2010, sejak saya mengetahui ada kampung yang terkenal karena daur ulang sampahnya. Sehingga wisatawan dari Eropa dan Australia ingin membeli hasil karya dari daur ulang sampah mereka.
Mengapa Ibu Tertarik pada daur ulang sampah ?
Latar belakang dari kesukaan saya terhadap daur ulang sampah di dasari sikap umum manusia Indonesia yang konsumtif, lebih cenderung mengonsumsi daripada memproduksi. Padahal sebenarnya dari hasil konsumtif tersebut bernilai harganya.
Ilmu daur ulang sampah, Ibu peroleh dari mana?
Untuk ilmu daur ulang sampah, saya mempelajari secara otodidak melalui media internet dan beberapa kali saya ke perpustakaan Singapore lalu membaca beberapa buku referensi yang diterbitkan Singapore bagaimana mengelola sampah dari hasil konsumtif masyarakatnya.
Nah, menurut Ibu bagaimana masalah sampah di lingkungan kita sekarang?
Masalah sampah sebenarnya masalah yang cukup menantang dan cukup rumit dan sebenarnya juga bisa di selesaikan jika ada intergrasi antara Pemerintah, Akademisi dan Masyarakat.
Kira-kira langkah apa yang di ambil untuk menanggulangi masalah sampah ?
Langkah pertama yang perlu di ambil untuk menanggulangi masalah sampah adalah dengan
kebijakan Pemerintah harus dapat terintergrasi dengan hasil penelitian dari Akademisi kemudian baru dapat di terapkan dengan integrasi untuk semua hal baik tentang budaya masyarakat di Batam kemudian prilaku-prilaku yang menyukai instant untuk hal seperti ini yang meneliti adalah akademisi, lalu yang membuat regulasi adalah Pemerintah selanjutnya hasil penelitian dan regulasi tersebut di gabungkan untuk di terapkan di masyarakat Batam khususnya.
Kendala apa yang Ibu temui dalam merintis daur ulang sampah?
Kendala yang saya temui biasanya fikiran masyarakat belum terbuka, hanya menganggap sampah adalah bahan yang tidak dapat di gunakan lagi dan harus di buang.
Lalu bagaimana solusi dan langkah yang Ibu ambil untuk mengatasi kendala tersebut?
Cara pertama untuk mengatasi kendala tersebut, pertama dengan mengajarkan masyarakat dengan turun langsung ke masyarakat dengan terlebih dulu mempersiapkan rencana dan melakukan koordinasi dengan dinas-dinas terkait hingga pekerjaan tersebut tidak menumpuk.
Dari kegiatan daur ulang sampah tersebut, apa yang dapat Ibu harapkan khususnya untuk kampus kita ini Bu ?
Harapannya terciptalah lingkungan Batam khususnya kampus UNRIKA menjadi bersih, harapannya setelah adanya sosialisasi dalam masyarakat tahu bagaimana caranya memanfaatkan sampah dan sampah tidak menumpuk di jalan raya atau di suatu tempat sehingga kita dapat menjadi tujuan wisata terutama untuk wisatawan mancanegara apalagi Batam adalah pintu masuknya Asia, sebenarnya ini merupakan satu pesona jika Batam di kelola sangat bersih. Justru hal ini dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui pundi-pundi uang dari sektor pariwisata Batam.
Adakah Pesan untuk Mahasiswa/I dan lingkungan kampus?
Mari perbaiki sikap konsumtif kita dan mulai membangun fikiran memproduksi, salah satu hal yang sederhana yang dapat kita lakukan buatlah buku catatan dari kertas bekas tugas kampus anda dan di jilid lalu di gambar sesuai selera masing-masing. Hal tersebut dapat menghemat pengeluaran membeli note book dan justru mengasah kreativitas kita.
Itulah hasil wawancara Tabloid Think bersama narasumber Dosen UNRIKA yaitu Wilda
Fasim Hasibuan yang mendedikasikan sebagian dirinya untuk lingkungan yang lebih baik.
Pekan lalu Tablod Think, secara khusus mewawancarai Wilda Fasim Hasibuan mengenai ketertarikannya dalam menghasilkan karya dari sampah yang sering di abaikan masyarakat pada
umumnya. Berikut hasil wawancara Think dengan beliau ;
Sejak kapan Ibu tertarik pada minat mendaur ulang sampah?
Ketertarikan saya mendaur ulang sampah, dimulai pada tahun 2010, sejak saya mengetahui ada kampung yang terkenal karena daur ulang sampahnya. Sehingga wisatawan dari Eropa dan Australia ingin membeli hasil karya dari daur ulang sampah mereka.
Mengapa Ibu Tertarik pada daur ulang sampah ?
Latar belakang dari kesukaan saya terhadap daur ulang sampah di dasari sikap umum manusia Indonesia yang konsumtif, lebih cenderung mengonsumsi daripada memproduksi. Padahal sebenarnya dari hasil konsumtif tersebut bernilai harganya.
Ilmu daur ulang sampah, Ibu peroleh dari mana?
Untuk ilmu daur ulang sampah, saya mempelajari secara otodidak melalui media internet dan beberapa kali saya ke perpustakaan Singapore lalu membaca beberapa buku referensi yang diterbitkan Singapore bagaimana mengelola sampah dari hasil konsumtif masyarakatnya.
Nah, menurut Ibu bagaimana masalah sampah di lingkungan kita sekarang?
Masalah sampah sebenarnya masalah yang cukup menantang dan cukup rumit dan sebenarnya juga bisa di selesaikan jika ada intergrasi antara Pemerintah, Akademisi dan Masyarakat.
Kira-kira langkah apa yang di ambil untuk menanggulangi masalah sampah ?
Langkah pertama yang perlu di ambil untuk menanggulangi masalah sampah adalah dengan
kebijakan Pemerintah harus dapat terintergrasi dengan hasil penelitian dari Akademisi kemudian baru dapat di terapkan dengan integrasi untuk semua hal baik tentang budaya masyarakat di Batam kemudian prilaku-prilaku yang menyukai instant untuk hal seperti ini yang meneliti adalah akademisi, lalu yang membuat regulasi adalah Pemerintah selanjutnya hasil penelitian dan regulasi tersebut di gabungkan untuk di terapkan di masyarakat Batam khususnya.
Kendala apa yang Ibu temui dalam merintis daur ulang sampah?
Kendala yang saya temui biasanya fikiran masyarakat belum terbuka, hanya menganggap sampah adalah bahan yang tidak dapat di gunakan lagi dan harus di buang.
Lalu bagaimana solusi dan langkah yang Ibu ambil untuk mengatasi kendala tersebut?
Cara pertama untuk mengatasi kendala tersebut, pertama dengan mengajarkan masyarakat dengan turun langsung ke masyarakat dengan terlebih dulu mempersiapkan rencana dan melakukan koordinasi dengan dinas-dinas terkait hingga pekerjaan tersebut tidak menumpuk.
Dari kegiatan daur ulang sampah tersebut, apa yang dapat Ibu harapkan khususnya untuk kampus kita ini Bu ?
Harapannya terciptalah lingkungan Batam khususnya kampus UNRIKA menjadi bersih, harapannya setelah adanya sosialisasi dalam masyarakat tahu bagaimana caranya memanfaatkan sampah dan sampah tidak menumpuk di jalan raya atau di suatu tempat sehingga kita dapat menjadi tujuan wisata terutama untuk wisatawan mancanegara apalagi Batam adalah pintu masuknya Asia, sebenarnya ini merupakan satu pesona jika Batam di kelola sangat bersih. Justru hal ini dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui pundi-pundi uang dari sektor pariwisata Batam.
Adakah Pesan untuk Mahasiswa/I dan lingkungan kampus?
Mari perbaiki sikap konsumtif kita dan mulai membangun fikiran memproduksi, salah satu hal yang sederhana yang dapat kita lakukan buatlah buku catatan dari kertas bekas tugas kampus anda dan di jilid lalu di gambar sesuai selera masing-masing. Hal tersebut dapat menghemat pengeluaran membeli note book dan justru mengasah kreativitas kita.
Itulah hasil wawancara Tabloid Think bersama narasumber Dosen UNRIKA yaitu Wilda
Fasim Hasibuan yang mendedikasikan sebagian dirinya untuk lingkungan yang lebih baik.

Komentar